Teruntuk Cinta
Berawal dari keresahan dan
kegelisahan di dunia anak-anak, hadirnya teknologi menjadikan anak-anak seorang
yang menjadi tidak aktif dengan kecenderungannya menikmati gadget ditangannya
seolah dunia milik si anak ini, miris memang namun inilah kenyataan bangsa kita
bangsa indonesia yang tidak siap dengan zaman teknologi ini, sebenernya jauh
sebelum itu teknologi sudah berkembang di negara-negara lain, inilah yang harus
kita sikapi dan pelajari dari semua tantangan dari perkembangan zaman, kalo
yidak mengikuti maka akan seiap-siap tergerus zaman positif dan negatif pasti
ada itu tergantung dari penyikapan kita sebagai pelaku zaman.
Indoneisa merupakan negara yang
minat bacanya terrendah sekitar 1% hmm luar biasa ya, anak-anak indoensia
cenderung lebih suka menikmati tren yang berkembang di negeri kita, dari mulai
fashion, cara bicara, cara menikmati hidup, dan yang terbaru bagai mana kita
eksis di media sosial dengan aplikasi sejuta ummat mereka bisa bebas berekpresi
untuk melakukan sesuatu yang mereka senangi. Tingkat minat seseorang sangat
menentukan bagi anak-anak untuk bisa mengembangkan potensi yang dipunya,
seringkali mereka tidak tau mereka mau ngapain, harus apa, mau buat apa
sehingga kecenderungan buat prestasi sangat sulit, kuncinya ialah Minat dan
potensi menurut ane, kita 2 hal ini bisa diketahui oleh orang tuanya, si anak
akan mudah di arahkan dan bisa menjadi kegiatan positif, kalo si anak suka
bola, bela diri, di IT, pencita alam, ya dukunglah bukan dengan jeratan-jeratan
orang tua untuk harus ini harus itu sehingga anak akan merasa harus ikut apa
yang dikata orang tuanya, karena itu ada terkekangan bagi si anak harusnya
orang tua menjadi fasilitator dan pendukung bagi keinginan si anak tersebut.
Hadirnya TBM ini sebenarnya bukan
kali ini aja di desa sudah ada 2 kali
taman baca, pertama itu taman baca yang diadakan oleh seorang ibu bernama Ibu
Leli Nuruslaily kalo ngga salah udah lama ngga say hello hehe rumah yang di
bikin teman baca dengan halaman rumah yang lumayan luas serta banyak taman ini
yang menjadikan anak-anak Madrasah Diniyah untuk dateng kerumah beliau untuk
membaca dan bermain, dari situ ketertarikan awal mula taman baca di desa
Sadamantra, yang kedua adalah taman baca di dusun kliwon TBM ini lebih singkat
umurnya hehe kepikir Cuma ada buku banyak dari hasil ngumpulin sana sini
yasudah lah kita manfaatkan buat di posronda dengan rak seadanya yang terbuat
dari kain coklat memanjang kebawah, karena tidak adanya kepengurusan dalam TBM
ini akhirnya hanya bertahan beberapa bulan saja dan gubar. Dan di tahun ini
kita coba kembali membuka TBM untuk adak Dusun Kliwon Desa Sadamantra membuat
TBM kembali, sebagai bentuk kepedulian pengurus karang taruna dusun untuk
generasi selanjutnya karena mereka tidak pernah merasakan bermain dan belajar sampai
tidak ingat waktu dizaman tidak ada HP yang touchscreen. Harapan dari TBM ini
kedepannya sebagai sarana belajar dan mengdepankan minat dan bakat bagi
anak-anak dusun kliwon untu menjadi sebagi generasi baik di Indonesia dan
kedepannya tidak hanya membaca bakal ada program-program yang kita coba
kombinasikan dengan kreatifitas, kesenian, pencinta alam dan program edukasi
lainnya, semoga TBM di dusun Kliwon menjadi cikal bakal menjadi salah satu
dusun percontohan minimal di desa sadamantra juga sebagai memajukan desa karena
TBM ini ditantang langsung oleh kepala desa sendiri.

Komentar
Posting Komentar